Sambas Times. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sambas menggelar kegiatan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di Kecamatan Tangaran. Rabu, (7/6/2023).
Pembukaan Puspaga Desa Merpati, Kecamatan Tangaran dihadiri Wakil Bupati Sambas Fahrur Rofi. Kabid Pemberdayaan Perempuan Dinas P3AP2KB Nisa Azwarita, Camat Tangaran Azhari, Kades Merpati Adi Saputra, Babinsa, dan peserta kegiatan Puspaga.
Kabid Pemberdayaan Perempuan Nisa Azwarita mengatakan, Desa Merpati merupakan desa ke 4 dari 7 desa se Kabupaten Sambas yang menjadi sasaran Puspaga tahun 2023.
“Ini sudah desa yang ke empat, Desa Merpati ini masuk tahun ke dua sebagai desa lokasi fokus stunting. Walau ada penurunan angka stunting tapi masih tergolong tinggi,” jelasnya.
Nisa berharap tahun depan angka stunting Desa Merpati dapat menurun bahkan nol kasus stunting. Sehingga program Desa Merpati dapat menyentuh lapisan masyarakat.
“Nanti kita akan berikan 21 pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta, dan juga akan kita berikan zat tambah darah bagi ibu-ibu hamil untuk perkembangan gizi. Selain itu akan diberikan materi bagaimana nilai religius dalam pola asuh anak,” sebutnya.
Camat Tangaran Terus Berupaya Turunkan Angka Stunting
Camat Tangaran Azhari menuturkan sudah 2 kali berkoordinasi dengan lembaga KB. Hal tersebut dilakukan dalam upaya penurunan kasus stunting di Kecamatan Tangaran.
“Memang dalam menangani masalah satu ini tidak hanya Dinas KB saja, tapi Puskemas, termasuk KUA, Kades. Yang terpenting tokoh agama dan tokoh masyarakat,” ujarnya.
Azhari mengatakan, program kesehatan Kecamatan Tangaran saat ini sudah berjalan dengan baik. Ia berpesan agar masyarakat tidak fokus pada penanganan gizi saja.
“Tetapi yang sama pentingnya ini adalah penanganan pola perilaku hidup. Yaitu bagaimana anak kita tidak menikah dengan usia dibawah umur,” pesannya.
Kepala Desa Merpati Adi Saputra mengatakan bahwa Desa Merpati 2 tahun berturut turut mengalami lokus stunting
“Pada tahun 2021 kita masuk pada penanganan vaksin dan bersamaan dengan Pergub lokus stunting saat itu, dan kita kesulitan untuk mengarahkan pendanaan,” jelasya.
Adi menuturkan bahwa Pemerintah Desa Merpati sudah menganggarkan 129 juta untuk menangani kasus stunting di desanya.
“Kita bergerak sesuai dengan intervensi yang dapat ditangani oleh desa, dan mulai januari 2023 kita sudah menjalankan program per bulan 30 dek telur di posyandu, dan ada vitamin bagi Ibu hamil,” ungkapnya.
Lebih jaih Adi menjelaskan intervensi penanganan stunting dimulai pada usia bayi baru lahir hingga 2 tahun, dan 2 tahun keatas sudah lepas intervensi. (Ris)















