Sambas Times. Bubur Paddas 2026 yang merupakan agenda tahunan Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas (KMKS), sebagai bentuk eksistensi Mahasiswa Kabupaten Sambas diperantauan dalam pelestarian Budaya Sambas.
Aridwan Ketua Panitia pelaksana menegaskan, Buborv Paddas KMKS 2026 sebagai salah satu upaya dan eksistensi mahasiswa kabupaten sambas di perantauan turut melestarikan kebudayaan daerah.
“Ia, Bubor Paddas KMKS 2026 ini merupakan bukti eksistensi kami sebagai mahasiswa asal kabupaten sambas turut melestarikan budaya daerah, serta upaya membangun silaturahmi di perantauan,” katanya, Sabtu (7/11/2026).
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya mengenal budaya daerah sebagai warisan masa lalu, tetapi juga ikut menjaga dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya.
“Salah satu identitas utama kegiatan ini adalah penyajian Bubor Paddas, makanan khas Kabupaten Sambas yang memiliki nilai filosofis tentang keberagaman, perpaduan berbagai bahan dalam satu hidangan,” jelasnya.
Ia menegaskan, filosofis ini menjadi simbol keberagaman unsur masyarakat Sambas yang berpadu dalam satu kesatuan. “Filosofi ini menggambarkan, perbedaan bukan penghalang hidup berdampingan, melainkan kekuatan dalam membangun persatuan,” sebutnya.
Rangkaian kegiatan akan diisi dengan makan Bubor Paddas bersama, pertunjukan budaya, serta berbagai agenda hiburan yang melibatkan partisipasi peserta, salah satunya kuis bahasa Sambas.
Aridwan menjelaskan, dalam pelaksanaannya, panitia telah menyiapkan sejumlah kejutan sebagai daya tarik tambahan bagi peserta.” Tentunya rangkaian acara Bubor Paddas tahun ini akan ada daya tarik tambahan,” bebernya.
Kegiatan ini terbuka bagi seluruh mahasiswa asal Kabupaten Sambas, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di Kota Pontianak. Peserta dapat mengikuti kegiatan dengan melakukan pendaftaran terlebih dahulu tanpa dipungut biaya.
Melalui kegiatan ini, KMKS ingin menghadirkan lebih dari sekadar pertemuan tahunan. Sebab, sejauh apa pun mahasiswa Sambas merantau, kampung halaman dan kebudayaannya tetap menjadi bagian dari jati diri yang harus dibawa.
“Ada budaya yang perlu dijaga, persaudaraan yang perlu dirawat, dan identitas daerah yang tak boleh hilang oleh jarak dan waktu. Target 1.500 peserta membuktikan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya Sambas tetap tumbuh di tengah generasi muda,” tegasnya.
Penulis: Muhammad Ridho| Dapatkan Update News Sambas Times














