Sambas Times. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sambas menggelar Pusat pembelajaran keluarga (Puspaga) Tahun 2023.
Kegiatan Puspaga pusatkan di Kecamatan Teluk Keramat. Selasa, (30/5/2023) dalam upaya pencegahan stunting dan meningkatkan pemberdayaan perempuan Kabupaten Sambas.
Pembukaan Puspaga hadir Wakil Bupati Sambas Fahrur Rofi, Sekretaris Kecamatan Teluk Keramat, Forkopimcam, Kepala Puskesmas Sekura, Kades Sungai Kumpai, dan peserta Puspaga.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas P3AP2KB Kabupaten Sambas Nisa Azwarita menyampaikan tujuan pelaksanaan Puspaga yang telah dilakukan beberapa desa sebelumnya.
“Kegiatan puspaga ini sebenarnya sudah dibentuk tahun 2022, kegiatan pada tahun ini kita fokuskan tujuannya untuk menurunkan angka stunting,” jelasnya.
Nisa melanjutkan Puspaga di Desa Sungai Kumpai lakukan setiap hari Selasa mulai tanggal 30 Mei sampai Agustus. “Setiap hari Rabu kita akan laksanakan di Desa Merpati dan Kamis Desa Lela,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaannya peserta akan ajarkan pentingnya ASI ekslusif dan M-Pasi, bahaya rokok, psikologi, dan terakhir akan ada pemberdayaan perempuan agar bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
Suratno sekretaris Camat Teluk Keramat mengatakan bahwa masyarakat Desa Sungai Kumpai mesti bersyukur dan harus aktif dengan adanya kegiatan tersebut.
“Kita berterima kasih kepada Pemda yang telah peduli dalam mengendalikan kasus stunting di desa ini. Oleh karenanya kita harus ikut dan aktif untuk menangani dan mencegah kasus ini bersama,” ujarnya.
Kades Sungai Kumpai Ajak Ikuti Program Puspaga
Kades Sungai Kumpai Gusanto dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah bersedia mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya harap bapak ibu semua dapat mengikuti kegiatan ini hingga selesai. Karena ilmu yang didapatkan akan dipraktekkan langsung oleh bapak ibu semua.” Harapnya.
Gusanto menuturkan Desa Sungai Kumpai memang angka stuntingnya paling tinggi di Kabupaten Sambas kita jangan berkecil hati dalam membangun desa kita.
“Kita ingin bagaimana masyarakat kompak dan bergerak menangani kasus stunting. Serta berusaha melakukan pembangunan di desa ini baik fisik dan non fisik, tanpa bayangi rasa ketakutan dengan kasus stunting yang tinggi ini,” imbaunya.
Ia juga menghimbau kepada orangtua dan calon pengantin untuk menjaga pola makan anak-anak, karena gizi salahnsatu indikator kesehatan anak kita. “Salah satu masalah stunting ini adalah gizi yang buruk,” tutupnya. (Ris)















