Home / Peristiwa

Minggu, 30 Agustus 2026 - 19:34 WIB

Karhutla, Kemarau, Kabut Asap dan Wacana Shalat Istisqa

Pengurus MUI Kabupaten Sambas usai Rakor menyikapi Karhutla, Kemarau, Kabut Asap dan Wacana Shalat Istisqa, Minggu (30/8/2026) siang.

Pengurus MUI Kabupaten Sambas usai Rakor menyikapi Karhutla, Kemarau, Kabut Asap dan Wacana Shalat Istisqa, Minggu (30/8/2026) siang.

Sambas Times. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sambas menyampaikan Pokok-pokok pikiran Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Kemarau, Kabut Asap dan Wacana Sholat Istisqa.

Dalam rapat itu, MUI Kabupaten Sambas menelorkan 10 pokok-pokok pikiran menyikapi kondisi Karhutla, Kemarau, Kabut Asap dan Wacana Sholat Istisqa siang tadi di Kampus UNNISAS, Minggu (30/8/2026).

“Ya, ada 10 pokom-pokok pikiran yang dihasilkan pada Rapat Koordinasi (Rakor) MUI Kabupaten Sambas,” kata Ketua MUI Kabupaten Sambas, Prof Dr H Sumar’in menjelaskan.

Berikut 10 Pokok-pokok Pikiran MUI

  1. Membedakan kemarau dengan karhutla : Kemarau merupakan fenomena alam/sunnatullah.
    Karhutla bukan konsekuensi otomatis dari kemarau, karena api tetap membutuhkan sumber penyebab.

Apabila disebabkan kelalaian atau kesengajaan manusia, karhutla merupakan persoalan moral, sosial, ekologis dan hukum.

  1. Karhutla merupakan persoalan serius di Sambas. Data yang disampaikan dalam bahan menunjukkan luas Karhutla hingga April 2026 mencapai 1.954,96 hektare.

Kondisi gambut, lahan kering dan cuaca kemarau meningkatkan risiko penyebaran api. MUI perlu mengambil posisi moral untuk mendorong pencegahan, bukan hanya merespons ketika asap sudah terjadi.

  1. Kabut asap bukan takdir yang harus diterima pasif. Kabut asap merupakan dampak dari pembakaran yang menghasilkan asap dan partikulat.

Karena itu, masyarakat harus didorong untuk menghentikan praktik pembakaran yang tidak bertanggung jawab.
Doa tidak boleh dijadikan pengganti ikhtiar pencegahan.

  1. MUI perlu menguatkan narasi “taubat ekologis”. Menjaga hutan, gambut, air dan lingkungan merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah.
BACA JUGA:  Polres Sambas Syukuran Hari Lalu Lintas Bhayangkara Ke-68

Pencegahan karhutla dapat ditempatkan sebagai bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.
Edukasi keagamaan perlu menghubungkan iman, takwa dan tanggung jawab ekologis.

  1. Tentang Shalat Istisqa: tidak perlu tergesa-gesa, tetapi jangan pula ditutup. Shalat Istisqa boleh dan merupakan ibadah yang disyariatkan ketika masyarakat membutuhkan hujan akibat kekeringan.

Namun, perlu melihat indikator objektif kekeringan, bukan semata-mata karena terjadi Karhutla atau cuaca panas.
Jika belum terdapat krisis air dan kekeringan luas, Istisqa tidak harus dijadikan respons utama terhadap karhutla.

  1. Perlu indikator bersama sebelum menetapkan Istisqa MUI dapat mempertimbangkan:

✅ Ketersediaan air bersih masyarakat;
✅ Kondisi sumber air dan sungai;
✅ Dampak terhadap pertanian;
✅ Kondisi ternak;
✅ Tingkat kekeringan;
✅ Prakiraan dan kondisi curah hujan;
✅ Rekomendasi instansi teknis terkait.

  1. Jika kondisi kekeringan semakin berat, MUI siap mengambil peran. Apabila terjadi kekeringan luas dan kebutuhan hujan menjadi mendesak, MUI dapat merekomendasikan dan mengoordinasikan Shalat Istisqa bersama pemerintah daerah, Kemenag, Ormas Islam, masjid dan Pesantren.

Istisqa hendaknya disertai taubat, istighfar, sedekah, doa dan komitmen menghentikan perusakan lingkungan.

  1. Membangun konsep “dua ikhtiar”. yaitu Ikhtiar langit, doa, istighfar, taubat, sedekah, shalat hajat dan Istisqa apabila memenuhi konteksnya.
BACA JUGA:  Tim SAR Akhiri Pencarian Kakek Toni Yang Hilang di Sajingan Besar

Ikhtiar bumi, pencegahan pembakaran, patroli, pemantauan hotspot, pembasahan gambut, kesiapan sumber air, edukasi dan penegakan hukum.

  1. MUI perlu bersinergi, bukan mengambil alih tugas teknis. Pemerintah dan aparat menangani aspek teknis, pencegahan dan penegakan hukum.

MUI menguatkan pendekatan moral, keagamaan dan perubahan perilaku masyarakat.
Masjid, dai, khatib dan lembaga pendidikan dapat menjadi saluran edukasi pencegahan karhutla.

  1. Pesan utama yang perlu dibawa MUI Sambas. Jangan hanya meminta hujan untuk memadamkan api, mari bersama-sama mencegah manusia menyalakan api.

Dari 10 pokok-pokok pikiran MUI, selanjutnya hasil usulan dari Rapat Koordinasi (Rakor). MUI Kabupaten Sambas belum perlu tergesa-gesa menetapkan Shalat Istisqa sebagai respons khusus karhutla.

Tetapi perlu mempersiapkan langkah dan mekanisme pelaksanaannya apabila indikator kekeringan menunjukkan kondisi yang membutuhkan.

Sementara itu, MUI dapat segera menggerakkan taubat ekologis melalui khutbah, ceramah, doa, istighfar dan edukasi masyarakat untuk mencegah pembakaran hutan dan lahan.

Prinsipnya, ujar Ketua MUI Kabupaten Sambas, doa diperkuat, ikhtiar ditingkatkan, pembakaran dihentikan, lingkungan dijaga.

Penulis: Muhammad Ridho| Dapatkan Update News Sambas Times

Share :

Baca Juga

Kapolres Sambas

Peristiwa

Kapolres Kunjungi Petugas KPPS Semparuk Yang Keguguran Saat bertugas
Kebakaran Lahan

Peristiwa

HMKS: Kebakaran Lahan di Desa Sekuduk Diperparah Fenomena Godzilla El Nino
Bupati Sambas Satono

Peristiwa

Bupati Sambas Buka Festival Durian Lumbang
Dandim 1208 Sambas Letkol Inf Dadang Armada Sari pada acara kenaikan pangkat personel Kodim 1208 Sambas

Peristiwa

Dandim 1208 Pimpin Kenaikan Pangkat Perwira, Bintara, dan Tamtama.
JSSB Peluang Ekonomi dan Wisata Bahari

Budaya

JSSB Peluang Ekonomi dan Wisata Bahari
Danramil 05/Pemangkat foto bersama usai aksi Donor Darah di RSUD Pemangkat

Peristiwa

Danramil Pemangkat Ajak Babinsa Donor Darah
Mobil Pemadam Kebakaran terus berupaya memadamkan api yang membakar pasar Sambas

Peristiwa

Kebakaran Belasan Ruko Pasar Sambas Berhasil Dipadamkan
Drainase Jalur Pantura Sambas terlihat Bersemak, tampak rumput dan tanaman liar memenuhi kiri kanan drainase

Peristiwa

Bersemak, Saluran Drainase Pantura Sambas Perlu Pembenahan
error: Content is protected !!