Sambas Times. Kelompok Tani (Poktan) Kopi Harum Manis, Desa Sempadian, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas mengalami masalah kualitas biji kopi pasca panen, akibat proses pengeringan yang belum standar.
Menyikapi itu, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai Andiyono membantu Poktan Kopi Harum Manis dalam pengendalian mutu produk melalui Rumah Jemur Kopi.
Andiyono mengembangkan Rumah Jemur Kopi untuk Poktan Kopi Harum Manis bersama anggota PKM, diantaranya, Sangkala, Angga Tritisari, Fitri Yani Partiwi dan Ikhlasul Amal.
Andiyono menjelaskan, Poktan Kopi Harum Manis merupakan mitra PKM. Mereka berkontribusi dalam bentuk penyediaan lokasi pembangunan rumah jemur kopi
“Iya, sebagian bahan pembangunan rumah jemur, tenaga kerja lokal untuk pembangunan, serta keikutsertaan aktif dalam setiap sesi pelatihan dan pendampingan,” kata Andiyono, Minggu (20/9/2025).
Ia mengatakan, mitra bertanggung jawab dalam operasional dan pemeliharaan rumah jemur pasca program, serta dapat mengimplementasikan sistem pencatatan mutu hasil panen kopi.
Permasalahan utama yang dihadapi mitra, mutu biji kopi yang tidak konsisten, proses pengeringan tidak standar dan ketiadaan rumah jemur. Sehingga perlu pembangunan rumah jemur kopi semi permanen, pelatihan Good Handling Practices (GHP).
“Langkah Tim PKM dari program ini membantu meningkatkan mutu dan nilai jual produk kopi. Seperti penerapan rumah jemur kopi dan pelatihan pengendalian mutu pasca panen secara langsung kepada petani kopi,” ungkapnya.
Sedangkan target dari kegiatan ini, meningkatkan kualitas dan nilai jual produk kopi, kapasitas SDM petani dalam pengendalian mutu. Serta terciptanya rumah jemur kopi yang akan menjadi model penerapan teknologi pasca panen kopi.
Ini Manfaat Rumah Jemur Kopi Tim PKM Poltesa
Rumah jemur kopi yang dibangun berukuran 3 x 3 meter, menggunakan rangka kayu dan atap transparan plastik UV. Lantai dibuat dari semen agar proses pengeringan lebih higienis dan mudah dibersihkan.
“Rumah jemur ini dirancang agar dapat melindungi kopi dari hujan, debu, dan kontaminasi tanah. Serta memfasilitasi pengeringan yang lebih merata dan terkendali,” ujar Andiyono menjelaskan.
Manfaat bagi mitra, penerapan teknologi ini tidak memerlukan listrik atau mesin berat, sehingga cocok untuk skala usaha tani kecil. “Model rumah jemur ini bersifat replikasi, mudah dikembangkan oleh petani lain di wilayah sekitar,” terangnya.
Andiyono menegaskan, pengabdian ini tidak hanya memberikan infrastruktur fisik. Tetapi juga transfer pengetahuan dan keterampilan berbasis iptek yang meningkatkan efisiensi, mutu, dan daya saing produk kopi lokal Sambas.
Penulis : Muhammad Ridho | Dapatkan Update Berita, Ikuti Google News















