Home / Pendidikan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Setelah Wisuda, Sarjana Muda Harus Bagaimana?

Adimas Nuur Syaifulah, Wisudawan UNNISAS angkatan XVI

Adimas Nuur Syaifulah, Wisudawan UNNISAS angkatan XVI

Sambas Times. Wisuda di berbagai perguruan tinggi Kabupaten Sambas dan Kalimantan Barat kembali dilakukan, mereka mengenakan toga, menerima ijazah, foto bersama keluarga dan pulang membawa gelar sarjana.

Ada kebanggaan di sana, ada harapan orang tua, ada doa keluarga dan ada pula masa depan yang mulai dipikirkan. Setelah wisuda selesai dan toga dilepas, ada satu pertanyaan, setelah sarjana, apa yang harus dilakukan?

Ini bukan untuk mengecilkan arti ijazah. Justru sebaliknya, gelar sarjana adalah hasil dari proses panjang. Namun, pendidikan tinggi seharusnya tidak berhenti ketika seseorang menerima ijazah.

Ilmu yang diperoleh dari kampus idealnya menemukan ruang untuk digunakan, diuji, dan dirasakan manfaatnya di tengah masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa yang diikuti, serta perubahan status dari mahasiswa menjadi lulusan.

Sebagai alumni UNNISAS, ada tanggung jawab baru yang muncul setelahnya. Saya kemudian memilih membawa semangat wisuda itu kembali ke tempat saya berasal yaitu Desa Mulia,Kecamatan Subah.

Kembali ke desa bukan berarti tanpa membawa apa-apa. Justru di sanalah ilmu, pengalaman organisasi, komunikasi, membangun jaringan, mengelola kegiatan, dan bekerjasama dengan orang lain mendapatkan ruang untuk dipraktikkan.

Keterlibatan diberbagai kegiatan masyarakat dan Karang Taruna adalah cara sederhana menerjemahkan semangat itu. Salah satunya, ketika semangat anak muda desa hadir dalam momentum wisuda melalui Drumband Karang Taruna Desa Mulia.

Bagi saya, kehadiran mereka bukan sekadar pertunjukan dalam sebuah acara kampus. Ada pesan yang ingin dibawa, yaitu desa juga memiliki anak muda, kreativitas, potensi, dan kebanggaan yang layak tampil di ruang publik.

BACA JUGA:  BNNP dan Pemda Sambas Kolaborasi Pelatihan Bimtek IBM

Dari sana saya semakin melihat bahwa hubungan antara kampus dan desa seharusnya tidak berhenti pada kegiatan formal, seperti penelitian, pengabdian, atau program tertentu.

Para lulusan perguruan tinggi juga memiliki kesempatan untuk menjadi penghubung antara pengetahuan yang mereka peroleh di kampus, dengan kebutuhan masyarakat di tempat mereka berasal.

Seperti diketahui, Kabupaten Sambas memiliki banyak anak muda yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Setiap tahun, semakin banyak pula yang menyelesaikan pendidikan dan menyandang gelar sarjana.

Apakah Sarjana Mampu Ciptakan Kegiatan di Lingkungannya

Apakah mereka mampu menciptakan kegiatan di lingkungannya? berani mengambil peran persoalan masyarakat? mampu membantu pemuda menemukan ruang berkembang? Atau menciptakan peluang ekonomi dan kegiatan produktif di desa?

Pertanyaan tersebut penting, karena masyarakat melihat sarjana sebagai orang yang memiliki pengetahuan lebih. Ekspektasi itu tentu tidak mudah dipenuhi. Tidak semua harus menjadi pejabat, bekerja di kantor pemerintah, atau pekerjaan dengan jabatan tinggi.

Sarjana yang membantu organisasi pemuda desanya juga sedang mengabdi. Mereka membantu pemuda belajar komunikasi di depan umum, membangun usaha di kampung halaman dan membuka kesempatan kerja.

Saya tidak ingin memaknai “KEMBALI KE DESA” sebagai sebuah keharusan bagi seluruh sarjana. Setiap orang memiliki jalan masing-masing. Ada yang bekerja di kota, melanjutkan pendidikan, profesional, pengusaha, atau jalur lainnya.

BACA JUGA:  Ketua TP-PKK Harap Kegiatan Rutin PKK Bukan Seremonial Semata

Di era ketika informasi begitu mudah diperoleh dan teknologi berkembang sangat cepat, kemampuan seorang sarjana tidak cukup hanya ditunjukkan melalui selembar ijazah.

Masyarakat membutuhkan anak muda yang mampu berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, menciptakan gagasan, dan menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

Di sinilah perguruan tinggi juga memiliki pekerjaan rumah. Kampus tidak hanya perlu melahirkan lulusan yang siap mencari pekerjaan, tetapi menciptakan nilai bagi lingkungan tempat mereka hidup.

Desa perlu melihat sarjana muda, bukan sebagai orang yang memiliki gelar, tetapi potensi Sumber Daya Manusia (SDM) pembangunan masyarakat. Bagi saya pribadi, perjalanan menjadi sarjana tidak berakhir ketika nama dipanggil di panggung wisuda.

Justru setelah itu, perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Toga akhirnya kembali disimpan. Foto wisuda mungkin hanya akan menjadi kenangan. Ijazah akan tersimpan di dalam map, selanjutnya bagaimana masyarakat mengenang kehadiran kita.

Saya memilih kembali melihat Desa Mulia sebagai ruang belajar dan berbuat. Bukan karena merasa mampu memberikan jawaban, tetapi percaya bahwa sarjana harus berani kembali menjadi bagian dari persoalan masyarakatnya.

Sebab pada akhirnya, gelar sarjana bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri setelah wisuda, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu ia bawa ketika kembali berdiri di tengah masyarakat.

Penulis: Adimas Nuur Syaifullah, Alumni UNNISAS | Dapatkan Update News Sambas Times

Editor : Muhammad Ridho

Share :

Baca Juga

Peserta TOT Pelatihan Kwarcab Sambas mengabadikan momen foto bersama di Objek Wisata Danau Sebedang.

Pendidikan

TOT Kwarcab Sambas Upaya Mantapkan Gerakan Pramuka
bupati sambas h satono

Pemerintahan

Peluncuran Buku “Saya Remaja” Dihadiri Bupati Sambas
Bimtek Supervisi Aplikasi Aksi Tuan Kalbar yang diikuti KKG dan K3S Kecamatan Tebas

Pendidikan

Kelompok Kerja Guru dan Kepsek Tebas Gelar Bimtek Supervisi
Suasana Khataman Quran pada perpisahan SDN 4 Tengguli

Pendidikan

Pelepasan SDN 4 Tengguli Gelar Khataman Quran
Politeknik negeri Sambas

Pendidikan

Dosen Poltesa Raih Doktor Dengan Riset Strategis Maqashid Syariah
AMKS

Pendidikan

AMKS Siapkan Tempat Tinggal Gratis Calon Mahasiswa Sambas di Pontianak
Politeknik Negeri Sambas

Pendidikan

Humas Poltesa Raih Silver Winner Anugerah Diktisaintek 2025
UNNISAS

Pendidikan

UNISSAS Tarik Mahasiswa PPL dari MAN IC Sambas‎‎
error: Content is protected !!