Sambas Times. Tingkat partisipasi sekolah jenjang SMP dan SMA Kabupaten Sambas masih rendah. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sambas akan mengambil langkah-langkah bersama instansi terkait.
Hal tersebut disampaikan Kepala Disdikbud Kabupaten Sambas, Samekto Hadi Suseno usai mengikuti rakor Penguatan Inovasi Daerah Kabupaten Sambas dan Evaluasi Capaian Kinerja Pembangunan Daerah tahun 2022. Selasa, (14/3/2023).
“Berkaitan dengan angka partisipasi sekolah, untuk jenjang SMP dan SMA sangat rendah, dan berada diangka sekitar 19 persen. Sehingga pihaknya akan mengambil langkah menyikapi ini,” tegasnya.
Seno sapaan akrabnya mengatakan, bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menjadi indikator Dinas Pendidikan khususnya bidang pengetahuan ada 2 hal, yaitu rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah.
“Kita membaca dari data, memang rata-rata lama sekolah maupun harapan lama sekolah mulai meningkat tahun 2022. Sebelumnya itu sudah terlihat dari tahun 2010,” ungkapnya.
Jika bicara rata-rata lama sekolah, Kadis menegaskan sebenarnya itu adalah potret terhadap apa yang telah kita lakukan dari tahun sebelumnya.
“Jadi rata-rata lama sekolah kita saat ini 6,74, kalau di level Kalbar berada di posisi nomor 2 dari bawah. Kalau dalam harapan lama sekolah kita berkisar pada angka 12,70,” ujarnya.
Untuk itu, jelas Seno, perlu dicari solusi, karena dengan banyaknya anak-anak umur sekolah atau umur belajar yang bekerja, kemudian dikarenakan banyaknya anak-anak umur sekolah yang menikah.
“Dampak dari hal tersebut, menyebabkan angka putus sekolahnya tinggi, dan berdampak terhadap rata-rata lama sekolah, ” jelasnya.
Disdikbud Akan Inventarisir Libatkan Stakeholder
Seno menuturkan, solusi yang disampaikan Bupati Sambas, yakni melakukan langkah-langkah dengan segera menginventarisasi bersama stakeholder.
“Melibatkan seluruh stakeholder, diantaranya Disdikbud, Disnaker, Dinsos PMD, dan Dinas P3AP2KB, dengan mendata ke desa-desa berapa banyak anak-anak yang putus sekolah,” ulasnya.
Seno menegaskan bahwa dinas pendidikan bersama instansi terkait akan lebih maksimal melakukan langkah-langkah terkait rendahnya tingkat partisipasi sekolah.
“Kita akan lebih mempertajam, langkah-langkah konkrit dalam hal itu, dan memerlukan kerjasama seluruh pihak. Termasuk peran orang tua dan keluarga,” tegasnya mengakhiri. (Ris)















