Sambas Times. Mahasiswa Universitas Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas (Unissas) menelusuri arkeologi di Makam Ratu Tatah Jiwang, Desa Sagang, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, Sabtu (17/10/2026).
Didampingi seorang dosen, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) menelusuri jejak peninggalan sejarah Islam, serta mengkaji bukti-bukti material yang berkaitan dengan peradaban Islam pada masa lampau.
Penelusuran yang dilakukan berfokus pada keberadaan makam dan bentuk nisan, yang diduga memiliki keterkaitan dengan sejumlah makam bersejarah lainnya di wilayah Sambas.
Dosen Sejarah Unissas, Tomi, M.Hum menjelaskan, bentuk nisan di Makam Ratu Tatah Jiwang memiliki kemiripan dengan dua temuan makam lainnya di Kabupaten Sambas.
“Bentuk nisan di Makam Ratu Tatah Jiwang memiliki kemiripan dengan nisan yang ditemukan di dua lokasi lainnya, yakni di Desa Merabuan, Kecamatan Paloh, dan Desa Nagur, Kecamatan Sambas,” ujar Tomi. .
Makam di Desa Merabuan dikenal masyarakat setempat sebagai Makam Datok Agong. Sementara itu, makam di Desa Nagur hingga kini belum diketahui secara pasti identitas tokoh yang dimakamkan di lokasi tersebut.
Menurut Tomi, kesamaan bentuk nisan dari ketiga lokasi itu menjadi hal menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Kajian mendalam diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan sejarah di antara makam-makam tersebut.
Ia juga menyampaikan dugaan bahwa nisan-nisan tersebut didatangkan dari Aceh pada abad ke-14 Masehi oleh saudagar Muslim dari Serambi Mekkah.
“Dugaan sementara, nisan-nisan tersebut didatangkan dari Aceh pada abad ke-14 Masehi. Namun, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan asal-usul dan keterkaitannya dengan perkembangan Islam di Sambas,” ujar Tomi.
Arkeologi Islam merupakan cabang ilmu arkeologi yang mempelajari peninggalan material, seperti makam, nisan, dan artefak lainnya, untuk memahami perkembangan masyarakat serta peradaban Islam pada masa lalu.
Kemiripan Nisan Jadi Petunjuk Penyebaran Islam
Temuan berupa kemiripan bentuk nisan tersebut dapat menjadi petunjuk awal dalam menelusuri kemungkinan jalur penyebaran Islam dan hubungan perdagangan pada masa lampau.
Meski demikian, asal-usul nisan serta perkiraan waktu kedatangannya masih memerlukan pembuktian melalui penelitian arkeologi dan kajian sejarah yang lebih mendalam.
Untuk mencapai lokasi Makam Ratu Tatah Jiwang, rombongan mahasiswa bersama dosen harus berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer. Mereka melewati kawasan hutan dan jalan setapak sebelum tiba di lokasi makam.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari pengalaman penelitian lapangan untuk mengamati secara langsung peninggalan sejarah yang berada di kawasan yang relatif sulit dijangkau.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperdalam pemahaman mengenai metode penelitian arkeologi sekaligus mengenali kekayaan sejarah Islam di Kabupaten Sambas.
Penelusuran tersebut diharapkan menjadi langkah awal mendorong penelitian lanjutan terhadap makam-makam bersejarah di Sambas, sehingga nilai sejarah dan warisan budaya dapat terus dipelajari, didokumentasikan dan dilestarikan.
Penulis: Muhammad Ridho| Dapatkan Update News Sambas Times














