Sambas Times. Politeknik Negeri Sambas (Poltesa) mendirikan Liberica Research Center (LiRC) sebagai sentra pembibitan modern dan alih teknologi agribisnis di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Pendirian LiRC sebagai sentra pembibitan modern diluncurkan Poltesa, guna mengatasi krisis penurunan produktivitas kebun kopi rakyat akibat tanaman tua.
Inisiatif yang terwujud lewat skema Program Usaha Produk Inovasi Vokasi (PUPIV) ini menggandeng Kelompok Tani Kopi di Kabupaten Sambas.
Untuk berkolaborasi pada penyediaan bibit unggul terstandar demi mendukung peremajaan (replanting) kebun kopi secara berkelanjutan.
Kabupaten Sambas tercatat memiliki areal kebun kopi liberika seluas 1.942 hektare, dengan produksi 889 ton yang dikelola oleh 3.795 petani (BPS, 2023).
Kopi liberika lokal dikenal tahan terhadap perubahan iklim, serta adaptif di lahan pasang surut dan gambut, lengkap dengan profil cita rasa khas bernuansa woody dan floral.
Namun, mayoritas kebun warga didominasi tegakan berusia lebih dari 20 hingga 25 tahun, serta serangan hama penggerek buah dan karat daun, diperparah ketiadaan penangkar bibit bersertifikat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, LiRC membangun fasilitas persemaian terintegrasi yang mencakup tiga unit rumah kaca (greenhouse) presisi di kampus Poltesa.
Fasilitas ini berfungsi sebagai sarana teaching factory bagi mahasiswa Prodi Pengelolaan Perkebunan Poltesa, untuk melengkapi fasilitas pembibitan modern yang telah ada.
Kebun riset terapan seluas kurang lebih setengah hektare kini telah ditanami sekitar 300 batang kopi liberika terpilih. Lahan percontohan ini difungsikan sebagai demplot (demonstration plot) agronomis.
Untuk memantau performa pertumbuhan, daya adaptasi tanaman di ekosistem pasang surut, serta efektivitas pemeliharaan terstandar sebelum teknologi budidaya direplikasi secara luas ke kebun pekebun rakyat.
Sebanyak 300 pohon ini sekaligus dipersiapkan menjadi calon pohon induk masa depan guna menjamin ketersediaan benih bernas secara berkesinambungan.
Distribusikan 1000 Bibit Unggul Untuk Pekebun Lokal
Melalui seleksi ketat pada pohon induk unggul milik mitra tani, serta penerapan prosedur pembibitan terkontrol dari pusat pembibitan, sebanyak 1000 bibit unggul telah didistribusikan secara komersial kepada pekebun lokal.
Ketua Tim LiRC, Sangkala, S.Si., M.Si, menjelaskan, ketiadaan sumber bibit terstandar menjadi simpul kritis mandeknya regenerasi kebun kopi di Sambas.
Bahkan Petani kerap menggunakan bibit cabutan liar tanpa seleksi mutu agronomis, sehingga rentan hama dan produksinya rendah.
“Melalui LiRC, kami memadukan riset terapan kampus dengan kebutuhan riil petani. Bibit yang dikembangkan terkontrol melalui seleksi ketat dari pohon induk unggul lokal, agar tahan kondisi lahan pasang surut dan gambut,” ujarnya.
Ke depan, program pengembangan LiRC diarahkan pada pengajuan sertifikasi resmi pohon induk varietas lokal Sambas, perluasan kapasitas persemaian hingga 20.000 bibit per siklus.
Serta penerapan teknik perbanyakan vegetatif seperti sambung pucuk (grafting) guna memangkas masa tunggu panen petani.
Pembangunan infrastruktur pembibitan dan penguatan kapasitas petani didukung alokasi pendanaan DIPA Poltesa TA 2026, melalui skema PUPIV, di bawah naungan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Poltesa.
Tim beranggotakan sebanyak 4 dosen, Yaitu Sangkala, S.Si., M.Si (ketua tim), Lang Jagat, S.Si., M.T., Andiyono, S.P., M.P., M.Sc dan Wilis Widi Wilujeng, S.P., MMA (anggota tim).
Melalui skema tersebut, riset terapan kampus diarahkan pada model bisnis sirkular yang mandiri (self-sustaining), sehingga operasional sentra pembibitan LiRC ke depan terus bergulir tanpa ketergantungan mutlak pada hibah pemerintah.
Penulis: Muhammad Ridho| Dapatkan Update News Sambas Times














