Sambas Times. Dialog Publik yang diinisiasi Indonesia Millennials Center (IMC) Wilayah Kalimantan Barat sukses membedah esensi persatuan dalam bingkai pembangunan daerah.
Hasil diskusi itu melahirkan gagasan-gagasan kritis dari perspektif akademis, kebudayaan. Hingga gerakan pemuda dalam mengawal masa depan yang dilaksanakan di Athena Kopitiam, Pontianak belum lama ini.
Firdaus Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Tanjungpura (Untan), Pontianak menjelaskan pentingnya berpikir struktural, filosofis, dan kritik konstruktif.
Firdaus yang juga Sekretaris Jenderal Moderasi Lintas dan Etnis Kalbar pada dialog itu. Menyoroti tantangan nyata dalam menjaga moderasi di tengah masyarakat Kalbar yang majemuk.
Ia menekankan dalam menghadapi dinamika sosial, generasi muda dan masyarakat harus melatih cara berpikir yang terstruktur, serta bernalar secara filosofis.
Menurut Firdaus, ruang publik hari ini membutuhkan kritik yang sehat. Namun, ia mengingatkan agar setiap kritik yang dilayangkan harus bersifat konstruktif.
“Kritikan yang kita berikan menyoroti jalannya pembangunan atau kebijakan daerah yang diimbangi dengan saran konkret. Namun yang paling penting, saran tersebut berpihak pada kepentingan masyarakat luas,” tegasnya.
Ketua Umum Mangkok Merah Kalbar, Iyen Bagago, pada dialog itu, mengingatkan urgensi menjaga kerukunan antar-masyarakat multietnis di Kalbar. Karena pembangunan tidak akan berjalan optimal tanpa adanya stabilitas sosial yang kokoh.
Iyen mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bahu-membahu dalam menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi daerah, apalagi di era digital saat ini.
“Kita harus bisa memanfaatkan media sosial secara bijak. Jadikan platform digital sebagai sarana untuk menyampaikan kritik yang membangun, bukan memecah belah, demi menjaga dan memperkuat persatuan nasional di wilayah Kalar,” ingat Iyen.
Kerukunan Kalbar di Tengah Kepentingan Politik Nasional
Direktur IMC Wilayah Kalimantan Barat, Hernandes Tino Raut dalam dialog itu membakar semangat forum diskusi dengan narasi perjuangan.
Hernandes yang juga inisiator dialog menegaskan. Bahwa persatuan nasional di Kalbar harus mewujud secara nyata dalam manifestasi pembangunan wilayah.
Dalam refleksinya, Hernandes tidak membaca ulang realitas sejarah. Bahwa multikulturalisme di Kalbar tidak terlepas dari benturan dinamika konflik masa lalu.
Ia menjelaskan , ketika sewaktu waktu kita dibenturkan berbagai kepentingan politik nasional. Pertanyaannya, apakah kita membiarkan diri kita terbelah hanya karena kebijakan pemerintah.
“Masyarakat Kalbar telah membuktikan bahwa dalam menjaga kerukunan. Kita sudah terbiasa saling bergotong-royong demi menciptakan dan merawat semangat persatuan nasional itu sendiri,” pungkas Hernandes.
Hasil dialog ini diharapkan mampu Menghasilkan poin-poin rekomendasi yang berorientasi dalam mengawal kebijakan pembangunan Kalbar. Sehingga tetap inklusif dan berbasis persatuan.
Penulis: Muhammad Ridho| Dapatkan Update News Sambas Times
















