Sambas Times. Bupati Sambas H Satono, bersama Wakil Bupati Sambas, H Heroaldi Djuhardi Alwi, mendampingi Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan pada penutupan Naik Dango XIX di Sambas.
Naik Dango XIX Kabupaten Sambas yang dihadiri ribuan masyarakat, telah dimulai dari tanggal 19 Mei 2026, acara berlangsung di halaman Rumah Adat Dayak Ramin Bantang Nek Riuh, Minggu (24/05/2026) malam.
Bupati Sambas, H Satono menyambut baik suksesnya pelaksanaan Gawai Dayak, ini merupakan hasil kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan serta kondusivitas daerah.
“Suksesnya naik sango tahun ini bukan hanya sukses masyarakat Dayak, namun menjadi keberhasilan seluruh komponen yang telah bersama-sama menciptakan situasi aman dan kondusif,” ujarnya.
Satono memberikan apresiasi kepada berbagai organisasi kemasyarakatan dan paguyuban di Kabupaten Sambas yang turut mendukung Gawai ini, baik DAD, MABM, MABT hingga paguyuban Jawa.
Bupati menegaskan, Naik Dango bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi memiliki dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM yang terlibat selama kegiatan berlangsung.
“Agenda ini bukan hanya seremoni budaya, tetapi juga mampu menghidupkan UMKM. Momentum gawai setiap tahun harus menjadi penggerak roda ekonomi masyarakat Kabupaten Sambas, ” pesannya.
Menurutnya, semangat persatuan menjadi modal penting dalam memajukan kebudayaan daerah secara harmonis. Dan tetap menjaga keamanan dan kedamaian.
Wabup Krisantus Naik Dango Tingkatkan Partisipasi Masyarakat
Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan berharap, pelaksanaan Naik Dango ke depan terus meningkat, baik dari sisi kualitas maupun partisipasi masyarakat, tanpa meninggalkan esensi utama dalam melestarikan budaya dan adat istiadat.
“Suku atau bangsa yang tidak melestarikan budaya dan adatnya perlahan akan hilang ditelan zaman. Karena itu pelestarian budaya menjadi hal penting di tengah perkembangan teknologi saat ini,” ungkapnya.
Ia mendorong agar pelaksanaan Naik Dango kedepan dapat menghadirkan lebih banyak edukasi budaya, termasuk menampilkan peralatan tradisional dan warisan budaya leluhur sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda.
Menurutnya, pengenalan alat-alat tradisional pertanian dan kehidupan masyarakat masa lalu penting dilakukan, agar generasi milenial memahami perjuangan serta kearifan nenek moyang dalam bertahan hidup dan menjaga alam.
“Saya berpesan agar masyarakat Dayak terus menjaga dan menampilkan kembali kekayaan budaya, baik benda maupun tak benda, agar tetap lestari dan tidak tergerus perkembangan zaman,” pesannya.
Penulis: Muhammad Ridho | Dapatkan Update News Sambas Times















