Sambas Times. Walau berada di Pontianak, Pengurus Asrama Mahasiswa Kabupaten Sambas “Pantai Utara” (AMKS Pantura) turut merayakan Hari Jadi Sambas ke-392 dan HUT perpindahan ibu kota Kabupaten Sambas ke-24.
Peringatan tersebut dirayakan melalui kegiatan seminar tentang Sejarah Sambas yang mengangkat tema “Menapak Tilas Sejarah Mewujudkan Sambas Baru Berkemajuan” pada minggu lalu, tepatnya tanggal 17 Juli 2023,
Para pengurus AMKS Pantura dan pengurus AMKS Muare Ulakkan berpartisipasi menjadi peserta pada seminar yang di laksanakan di Aula AMKS Muare Ulakkan, Jalan Sepakat 2, Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.
Kepala Divisi PSDMA dan Kerohanian Pantura, Hanif Qushayyi mengatakan AMKS turut merayakan Milad Kabupaten Sambas di Pontianak. Tujuannya untuk memberikan wawasan historis daerah.
“Kegiatan seminar bertujuan agar mahasiswa sebagai penerus di Kabupaten Sambas bisa mempelajari dan memaknai Sejarah Sambas. Sejak masa kesultanan hingga pemerintahan kabupaten saat ini,” ujar Hanif, Selasa (25/7/2023).
Seminar tersebut menghadirkan pemateri Dr Erwin Mahrus, MAg. Dosen Sejarah Pascasarjana IAIN Pontianak tentang awal pembentukan kesultanan paling utara Kalimantan Barat ini hingga terbentuknya Pemerintahan Kabupaten Sambas.
“Alhamdulillah Seminar Sejarah Sambas berlangsung lancar, banyak ilmu yang di dapat pengurus AMKS Pantura dan AMKS Muare Ulakkan. Terutama tentang sejarah Kesulranan Sambas dan Pemerintahan saat ini,” ujar Hanif menjelaskan.

Erwin Mahrus Sampaikan Sejarah Sambas
Kesultanan Sambas berdiri, ditandai dengan dilantiknya Raden Sulaiman menjadi sultan yang pertama pada 10 Zulhijjah 1040 H. Bertepatan dengan 9 Juli 1631 M.
“Tanggal inilah yang kemudian dijadikan sebagai tonggak penting dari Peringatan Hari Jadi Kota Sambas saat ini,” ujar Erwin Mahrus menjelaskan.
Ia menyampaikan, secara formal kesultanan Sambas berakhir dengan bersatunya bekas kerajaan Melayu ini dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Meskipun sudah menjadi bagian dari NKRI. Bekas dari kerajaan ini masih memiliki sejumlah peninggalan yang dapat di jumpai hingga kini,” terang dia.
Peninggalan yang ada hingga saat ini. Istana Alwatzikubillah, Masjid Agung Sultan Safiyuddin II, Gerattak Asam, Gerattak Pasar Pagi, dan makam para ulama.
Sedangkan peninggalan intelektual, seperti kitab-kitab dan manuskrip karya ulama Sambas. ” Oleh karenanya Sambas sangat potensial menjadi destinasi wisata budaya dan religi,” ulas dia.
Alumnus UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini juga menyorot pentingnya sejarah Kesultanan Sambas sebagai pembelajaran.
“Pada masa silam, Sambas memiliki lembaga pendidikan formal paling awal di Kalimantan Barat yaitu Madrasah al-Sultaniyah,” bebernya.
Pelabuhan Sambas telah di singgahi kapal-kapal dari luar negeri. Jalan-jalan penghubung antar kota dibangun, dan kanal-kanalnya hingga kini masih di gunakan sebagai jalur transportasi alternatif
“Langkah-langkah visioner dari para sultan dan tokoh ulama Sambas hendaknya memberikan inspirasi bagi generasi hari ini untuk berikhtiar mewujudkan Sambas baru yang lebih berkemajuan”, pungkasnya. (edo)
















